10 kelakuan anus jalanan

hajar aja pak
anus jalanan adalah kata yang gua gunakan untuk menyebut mereka2 yang punya kelakuan minus di jalan. berikut ini adalah eksposisi dari 10 kelakuan minus yang berhasil gua temukan.

1. main klakson


yang gua maksut dengan main klakson di sini adalah menggunakan klakson secara lebay. sebagai contoh, nyuruh orang yang di depan untuk segera jalan, padahal ijo juga belom (akan dibahas lebih lanjut). variasinya adalah klakson pendek2 (yang bisa diartikan "buruan woy!") atau klakson panjang (yang kurang lebih bermakna "BURUAN ANJEEEEENG!")

2. pake klakson norak


bagi sebagian anus jalanan, main klakson dengan klakson standar rupanya nggak cukup. mereka harus pake klakson yang suaranya unik dan kalo bisa mirip2 klakson polisi (ilegal lho). tujuannya? paling nggak biar disangka petugas dan orang jadi minggir. tujuan lainnya ya biar diperhatiin. maklum anus jalanan yang pake klakson norak umumnya punya orang tua yang kurang perhatian.

3. nerobos lampu merah


kelakuan ini mungkin adalah yang kedua terbanyak dilakukan di jakarta, setelah main klakson. entah kenapa anus jalanan di jakarta nggak bisa banget ngeliat kombinasi lampu merah + jalanan sepi. kalo udah dihadapkan pada pemandangan yang begitu, libido mereka biasanya langsung meninggi dan harus segera dipuaskan. entah apa yang bikin mereka begitu terburu2. kalo takut telat ya bangun lebih pagi lah, nus.


4. maksa orang nerobos lampu merah


ini yang lebih parah. saking pengennya segera nerobos lampu merah, beberapa anus jalanan bahkan tega memaksa pengguna jalan lain (yang bukan anus) untuk mengikuti gaya hidup mereka. biasanya, adegan pemaksaan ini terjadi ketika durasi lampu merah sudah masuk di 5-10 detik terakhir, atau (untuk yang lampu merahnya nggak pake detikan) ketika lampu menyala kuning. sekali lagi ya nus, kalo takut kesiangan ya jangan bangun siang2.

5. ngajak berantem


kelakuan yang satu ini biasanya dilakukan oleh anus jalanan yang belum makan siang. ajakan untuk berantem nggak dilakukan anus jalanan dengan turun dari motor dan berkelahi. nggak. mereka lebih efisien dari itu: cukup tatap mata pengguna jalan yang jadi target selama beberapa detik. oh iya, jangan lupa ekspresi mukanya dibuat sesangar mungkin. nah iya gitu.


6. mobil minta jalan


banyak anus jalanan yang bermobil sambil gagal paham: hanya karena mobil punya stereotip "berkecepatan tinggi", cuma mobillah yang berhak berada di lajur kanan. alhasil, ketika melihat ada pengendara motor yang ngambil kanan, mereka langung terpycu lalu misuh2 sambil main klakson (dengan dalih minta jalan). banyak2 baca ya, nus.


7. marah2 ke orang yang salah


manusia adalah tempatnya salah, dan salah di jalan adalah bagian darinya. jadi wajar lah kalo ada orang2 (terutama yang baru lewat situ) yang salah mengambil keputusan dan bikin jalanan rada macet. kalo dia salah, kasihtau aja "mas jangan berhenti di sini, bikin macet", atau "mbak jangan berhenti mendadak dong, gimana sih", atau gimana kek gitu. yang jelas, nggak usah dirundung pake klakson bertubi2 + caci maki segala lah.

8. naik trotoar


sama kayak nerobos lampu merah, demi menebus kesalahan karena bangun siang, anus2 jalanan rela merampas hak pejalan kaki dengan menguasai trotoar. nggak cukup sampe di situ, mereka udah siap melawan dengan argumen (baca: ngotot2an) yang kuat ketika ada pejalan kaki yang protes.


9. buang sampah sembarangan


bagi beberapa anus jalanan, jalanan di jakarta adalah perpanjangan dari rumah mereka. karena itu, wajar apabila putung rokok, bungkus makanan, atau celana dalam mereka diletakkan begitu saja di atasnya. yang lucu adalah, anus jalanan yang melakukan hal ini biasanya adalah mereka yang maju paling depan untuk protes ke pemerintah kalo jakarta banjir. nus.. nus.

10. nyalain mesin di pom bensin


yang ini bonus sih, karena sebenernya yang dirugikan oleh kelakuan ini adalah diri mereka sendiri. ya gimana nggak, kan bensinnya jadi kebuang2. emang motornya berat banget ya nus, sampe buat maju 2-3 meter aja harus pake gas?
10 Tindakan Produktif Saat Sedang Malas

10 Tindakan Produktif Saat Sedang Malas

1. Membuat catatan pendek berisi penjelasan bagaimana cara tetap produktif saat merasa malas
2. Menggagas alasan untuk tidak menonton Youtube demi "mengisi waktu" dan/atau "mencari inspirasi", serta menuangkan gagasan tersebut sedemikian rupa sehingga bisa dibaca oleh khalayak ramai
3. Melakukan sit-up sebanyak 284 kali setelah memakan satu porsi nasi goreng kambing, kemudian memaparkan alasan untuk tidak melakukannya secara tertulis
4. Bereksperimen dengan mi instan, lalu mempublikasikan hasilnya dalam status Facebook
5. Membuat daftar kata "malas" dalam 50 bahasa. Poin tambahan apabila setiap kata dimuat dalam kalimat
6. Membayangkan hidup yang akan kita jalani jika tiba-tiba menerima uang 100 juta dollar AS, lalu mewujudkannya dalam bentuk teks
7. Meneliti apakah terdapat hubungan antara nomor punggung pemain sepakbola dan besarnya kontribusi si pemain dalam satu musim. Kemungkinan besar, jawabannya adalah tidak berhubungan, namun laporan penelitiannya pasti menarik untuk dibaca
8. Menghitung jumlah kata sulit yang digunakan oleh seorang kandidat kepala daerah dalam debat prapemilihan umum, membandingkannya dengan kandidat lain, lalu menuangkannya dalam bentuk laporan mendalam
9. Mengamati kebiasaan yang dimiliki oleh sejumlah pembawa acara berita televisi, lalu membuat laporan hasil observasinya
10. Menemukan jawaban atas pertanyaan "apakah bahan bakar akan lebih cepat habis bila kendaraan dikebut?", lalu memaparkannya dalam sebuah artikel

10 Cara Meningkatkan Kemampuan Menulis


Dengan semakin berkembangnya penggunaan media sosial, kemampuan menulis menjadi semakin penting. Hal ini terjadi karena tidak seperti media konvensional, media sosial seperti Facebook "bergantung" pada penggunanya untuk menciptakan konten. Ya, sebagai sebuah perusahaan media, Facebook tidak perlu membuat satu artikel pun untuk mendatangkan keuntungan.

Tidak hanya itu, dari sisi pembuat konten, mereka bisa mendapat manfaat berupa penghasilan tambahan. Tidak sedikit pula orang yang berhasil memanfaatkan kemampuan menulis mereka di media sosial, hingga mampu hidup hanya dari menulis. Di dunia blogging, misalnya, para blogger berlomba-lomba untuk menjadi penerbit iklan Google AdSense--yang penghasilannya konon mencapai puluhan juta rupiah per bulan!

Jadi, kamu tertarik untuk jadi jagoan menulis juga? Kebetulan saya sudah pernah memikirkan 10 caranya. Sikat!


***

1. Menulis cerpen sepanjang minimal 300 kata setiap hari

Sewaktu kuliah dulu, saya biasa mendapat tugas membuat paper dengan panjang isi yang beragam, namun yang paling sering adalah 300 kata. Asumsinya, dengan font dan pengaturan margin tertentu, 300 kata adalah jumlah yang pas untuk memenuhi satu halaman kertas A4. Lalu mengapa cerpen? Karena cerpen menyenangkan. Iya, begitu saja.

2. Membuat esai opini terhadap berita yang ada di media

Sebagai generasi media sosial, kamu pasti tidak pernah lewat dari perkembangan berita. Setiap hari, kamu mungkin bisa membaca belasan bahkan puluhan artikel, baik dari sumber yang punya kredibilitas hingga yang "hoax". Ada baiknya, media tidak membentuk opini kamu, karena jika kamu tidak hati-hati, kamu akan terjebak ke dalam pola pikir yang salah. Cobalah menuliskan pandangan kamu sendiri tentang sebuah peristiwa atau isu yang hangat. Selain melatih kemampuan menulis, pisau analisis dan logika kamu juga semakin terasah!

3. Membuat article review dari sebuah terbitan ilmiah

Ini adalah salah satu tugas yang sering saya terima saat kuliah. Untuk mengulas sebuah artikel ilmiah, kamu tentunya perlu membaca artikel tersebut dan memahaminya. Dengan begitu, kemampuan menulis kamu akan terlatih karena kamu harus memaparkan "bahasa tinggi" para ilmuwan ke dalam bahasa sehari-hari kamu. Jurnal ilmiah mahal? Jangan khawatir, kamu bisa mendapatkan artikel-artikel ilmiah gratis di Google Scholar.

4. Mengetik ulang buku-buku bernilai sastra tinggi

Buku-buku bernilai sastra tinggi adalah bacaan klasik, yang artinya tidak lekang oleh jaman. Oleh karena itu, biasanya buku-buku ini sudah berusia ratusan tahun. Mengapa mereka bisa begitu awet? Jawabannya satu: kualitas, baik kualitas cerita maupun bahasa. Dengan mengetik ulang, kamu bisa memahami bagaimana cara membuat tulisan yang berkualitas pula. Saya menyarankan buku-buku yang bebas hak cipta seperti Sherlock Holmes atau The Great Gatsby, agar kamu bisa terhindar dari masalah hukum yang tidak perlu (terutama bila kamu menulis di blog).

5. Mengikuti kursus menulis di situs-situs seperti Udemy atau Coursera

Ya, kamu bisa ikut kursus menulis yang diadakan oleh para ahli. Saya tidak mengada-ada; kampus-kampus ternama seperti Stanford dan Wesleyan University membuka kelas menulisnya di situs crowdlearning Coursera. Ya, selain online, kelas-kelas ini gratis! Kamu bahkan bisa memperoleh sertifikat di kelas tertentu.

6. Menerjemahkan tulisan-tulisan berbahasa asing

Menerjemahkan tulisan berbahasa asing, seperti artikel di majalah luar negeri, bisa menjadi ajang latihan yang seru. Kamu akan mendapat setidaknya dua manfaat: semakin jago mengetik dan meningkatkan kemampuan berbahasa asing. Cara ini mungkin lebih efektif dibanding sekedar menghafal rumus-rumus gramatikal.

7. Menyunting secara mandiri publikasi-publikasi yang sudah terbit

Pernahkah kamu membaca sebuah tulisan lalu menemukan ada kesalahan tanda baca? Atau mungkin kesalahan penulisan? Saya sering menemukannya, terutama kesalahan penggunaan kata "di" sebagai awalan (ditarik) dan kata depan (di perjalanan). Penerbit memang tidak selalu jeli seperti itu. Kamu sebagai pembaca malah kadang lebih sensitif soal penulisan, dan kamu boleh mengetik ulang seluruh atau sebagian tulisan tersebut dengan "benar".

8. Menulis reka ulang sebuah pertandingan olah raga

Hampir semua orang punya cabang olah raga favorit. Dan bagi mereka, mungkin tidak ada yang lebih menyenangkan dari menonton pertandingan olah raga tersebut. Kamu bisa memanfaatkan hobi kamu ini untuk mempertajam kemampuan menulis, loh. Jadi, daripada menonton highlight, kamu bisa menceritakannya dalam bentuk tulisan pendek. Sebenarnya hal ini sudah biasa dilakukan kok oleh media olah raga, jadi mengapa tidak mencoba?

9. Membuat resensi

Ini mungkin hampir sama dengan article review. Bedanya, yang kamu ulas biasanya buku. Kemampuan menulis kamu diuji dengan bagaimana kamu bisa memadatkan konten sebuah buku dalam satu halaman saja. Kamu juga bisa menjual hasil resensi kamu ke koran atau majalah loh.

10. Membaca sebanyak-banyaknya

Ini adalah inti dari segala inti. Memang, menulis itu dilakukan dengan menulis, bukan membaca. Tapi seperti yang mungkin sudah kamu pahami, mustahil seorang sutradara tidak pernah menonton film. Penulis juga begitu; semakin banyak bacaan yang dibaca, kemampuannya akan semakin meningkat.

***


Jadi, apa pendapat kamu tentang 10 cara meningkatkan kemampuan menulis versi saya? Mudah-mudahan, kemampuan menulis kamu benar-benar meningkat ya!

Sumber gambar: Chung Sung-Jun/Getty Images

10 Alasan Mengapa Kita Harus Memakai Lampu


Tidak bisa dipungkiri, keberadaan lampu merupakan salah satu pencapaian terbesar dalam sejarah peradaban manusia. Sejak ditemukan pada akhir abad ke-19, lampu sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia modern. Mau bukti? Lihat sekeliling kamu, hampir tidak mungkin kan rumahmu tidak berlampu? Bagaimana dengan di jalan depan rumah? Pos ronda? Lapangan badminton?


Pertanyaannya: mengapa lampu-lampu itu ada? Apakah kita benar-benar harus memakai lampu? Berikut sepuluh alasannya.


***

1. Tanpa lampu, kamar akan gelap

Tanpa banyak cing-cong, ini adalah alasan yang paling mendasar. Ketidakadaan alat penerang, khususnya lampu, pasti membuat kita kewalahan. Ada banyak hal buruk yang bisa diakibatkan dari sana: salah ambil kaos kaki, terjatuh dari tempat tidur, hingga sulit menemukan lubang (kunci).

2. Membeli lampu di warung membantu kesejahteraan rakyat

Penggunaan lampu tentu memunculkan konsekuensi untuk membeli lampu terlebih dahulu. Di banyak tempat di Indonesia, lampu adalah salah satu barang konsumsi yang banyak dijual di warung. Dan tanpa perlu dijelaskan lagi, kita tentunya tahu bahwa warung termasuk penggerak ekonomi kerakyatan.

3. Agar bisa menghemat energi

Di era semaju sekarang ini, teknologi lampu tentu sudah berkembang dengan sangat pesat. Dulu, lampu yang lazim ada di rumah tangga adalah yang berbentuk bulat (yang biasa kamu lihat di rumah jadul, atau yang muncul di atas kepala tokoh kartun); sekarang, lampu jenis LED yang hemat energi sudah banyak digunakan--membuat penggunaan energi di rumah semakin sedikit.

4. Cara kita menghormati kerja keras penemu semacam Thomas Edison

Siapa yang tidak kenal Thomas Alva Edison? Oleh dunia, Edison dianggap sebagai penemu lightbulb (bohlam), yang merupakan cikal bakal lampu modern yang kita gunakan saat ini. Dengan menggunakan lampu, terlepas dari jenis dan teknologinya, secara tidak langsung kita sedang mengenang dan menghormati jasa beliau.

5. Fasilitas flashlight di ponsel kurang efisien

Mungkin kamu termasuk orang yang berpendapat seperti ini: "Buat apa mahal-mahal beli lampu, toh smartphone saya ada flashlight-nya. Sama terangnya kok". Tidak ada yang salah dengan pendapat itu. Sama sekali. Hanya saja, kamu mungkin sadar bahwa: 1) baterai smartphone kamu terbatas, 2) jangkauan cahanya tidak luas, dan 3) kamu mau beli berapa smartphone untuk menerangi seluruh rumah?

6. Menghibur spesies tertentu, misalnya laron

Kamu pasti sangat familiar dengan situasi di mana sekelompok serangga mengerubungi lampu taman. Beberapa spesies serangga, seperti laron, memang punya ketertarikan pada cahaya. Dengan menggunakan lampu, artinya kita peduli lingkungan dengan menyediakan hiburan "gratis" untuk mereka.

7. Untuk memberi sinyal pada orang luar, terutama maling, bahwa ada orang di rumah

Ada beberapa orang yang sengaja meninggalkan rumahnya dalam keadaan lampu menyala. Hal ini biasanya bertujuan untuk "menghalau" penyusup seperti maling, dengan asumsi bahwa tidak mungkin ada orang yang membiarkan lampunya menyala tanpa tujuan. Apakah kamu termasuk yang memakai strategi serupa?

8. Bisa membantu menghangatkan ruangan

Matahari memindahkan energi ke bumi melalui proses radiasi. Kita bisa menganalogikan proses yang sama pada lampu kamar. Meski tidak sesignifikan matahari, lampu juga memiliki kemampuan untuk menghangatkan ruangan. Pada contoh yang kecil, kita bisa melihat bagaimana peternak ayam meletakkan lampu di atas telur--untuk membantu penetasan.

9. Ajang uji nyali saat penggantian bohlam

Bohong jika kamu tidak merasa deg-degan ketika mengganti bohlam. Kalaupun kamu tidak takut ketinggian (karena umumnya lampu diletakkan di langit-langit), setidaknya perasaan "ngeri-ngeri sedap" saat memasang bohlam pada tempatnya cukup intens untuk mengeluarkan keringat dingin.

10. Menyediakan lapangan pekerjaan bagi yang ingin berjualan tongkat pemasang lampu

Kalau kamu suka jalan-jalan di ITC, kamu pasti pernah setidaknya satu kali melihat tukang jual alat ini. Bentuknya seperti galah dan di ujungnya dipasang penjepit bohlam. Bayangkan, tanpa konsumen lampu seperti kita, jualan apa mereka?

***

Itulah 10 alasan mengapa kita harus memakai lampu. Bagaimana? Apakah sekarang kamu lebih tercerahkan?

Sumber gambar: Yoshikazu Tsuno/Getty Images